Di Incar Cina, Indonesia Memiliki Cadangan Gas Terbesar di Asia Pasifik dan terletak di Natuna

0
783
Di Incar Cina, Indonesia Memiliki Cadangan Gas Terbesar di Asia Pasifik dan terletak di Natuna
Di Incar Cina, Indonesia Memiliki Cadangan Gas Terbesar di Asia Pasifik dan terletak di Natuna

Indonesia telah lama dikenal sebagai penghasil gas alam dunia. Salah satu cadangan terbesarnya adalah di perairan Natuna, yang saat ini dalam polemik karena klaim Cina. Ovobetting

Dikutip dari Kompas.com dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki cadangan gas bumi mencapai 144,06 triliun kaki kubik (TCF), terdiri dari cadangan terbukti (P1) sebesar 101,22 TSCF dan cadangan potensial (P2) 42,84 TSCF.

Cadangan gas terbesar di Indonesia berada di Natuna, tepatnya di Blok East Natuna 49,87 TCF. Selanjutnya diikuti oleh Blok Masela di Maluku 16,73 TCF, dan Blok Indonesia Deepwater Development (IDD) di Selat Makassar 2,66 TCF. Situs Betting Terpercaya

Kandungan gas alam yang besar di Natuna, membuatnya disebut-sebut sebagai cadangan gas terbesar di Asia Pasifik.

Natuna Timur direncanakan hanya dapat menghasilkan gas pada tahun 2027. Lamanya produksi disebabkan oleh kurangnya teknologi untuk mengekstraksi gas dari kedalaman laut Nantuna.

Masalah terberat, yaitu kandungan gas CO2 yang mencapai 72 persen, sehingga dibutuhkan teknologi khusus yang juga mahal.

Berbeda dengan blok lain di Natuna, gas yang diproduksi dari Natuna Timur tidak dijual melalui jaringan pipa ke Singapura, tetapi diharapkan akan disalurkan ke Jawa melalui pipa yang terhubung dari Kalimantan Barat ke Kalimantan Selatan dan ke Jawa Tengah.

Wilayah kerja minyak dan gas yang berlokasi di Kepulauan Natuna, berjumlah 16 WK, terdiri dari 6 WK produksi, 10 WK eksplorasi di mana 3 di antaranya dalam proses terminasi karena waktu kontrak telah berakhir dan belum dapat memperoleh minyak dan temuan gas.

Enam wilayah kerja minyak dan gas yang telah diproduksi adalah South Natuna Sea Block B yang dioperasikan oleh Conoco Phillips InC, Natuna Sea Block A yang dikelola oleh Premier Oil Natuna Sea B.V, Kakap oleh Star Energy (Kakap Ltd). Situs Poker IDN Terbaru 2020

Kemudian Blok Udang dikelola oleh TAC Pertamina EP Arnebrata Natuna Defense. Dua lainnya adalah Sembilang yang dioperasikan oleh Mandiri Panca Usaha dan Northwest Natuna oleh Santos.

Eksplorasi sejak 1960-an
Haposan Napitupulu, mantan Deputi Badan Eksekutif untuk Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi, menjelaskan bahwa Laut Natuna memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar.

Salah satu blok minyak dan gas di Natuna yang memiliki cadangan sangat besar dari ladang gas Natuna D-Alpha dan ladang gas Dara yang kegiatan eksplorasi telah dilakukan sejak akhir 1960-an.

Pada saat itu, salah satu perusahaan minyak dan gas Italia, Agip, melakukan survei seismik laut yang ditindaklanjuti dengan melakukan 31 pengeboran eksplorasi.

Kegiatan ini berhasil menemukan cadangan minyak dan gas terbesar sepanjang 130 tahun sejarah minyak dan gas Indonesia dengan 222 triliun kaki kubik (TCF) gas dan 310 juta bbl minyak, dengan luas 25 x 15 km2 dan reservoir ketebalan batu lebih dari 1.500 meter.

Namun, sayangnya, hingga ditemukan pada tahun 1973, ladang gas D-Alpha tidak dapat dieksploitasi karena membutuhkan biaya tinggi karena kandungan gas CO2-nya yang mencapai 72 persen.

Pada 1980, pengelolaan blok ini digantikan oleh Esso dan Pertamina. Esso kemudian bergabung dengan Mobil Oil sebagai ExxonMobil dan telah menghabiskan sekitar US $ 400 juta untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan pengembangan bidang studi. Namun, ladang gas ini belum dieksploitasi dengan sukses.

Produksi gas dari blok produksi di Laut Natuna sebagian besar disalurkan ke Malaysia dan Singapura. Kontrak masih berlanjut hingga 2021-2022.

Jika saluran pipa ke Batam telah selesai, sekitar 40 juta kaki kubik gas alam akan didistribusikan ke Pulau Batam yang akan digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik.

Gas alam dari ladang Belanak di Indonesia disalurkan ke Lapangan Duyong, Malaysia, melalui pipa laut sepanjang 98 kilometer yang kemudian disalurkan ke Kertih di pantai timur semenanjung untuk diproses dalam industri petrokimia.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here